Featured Slider

Batik "Negeri Serambi Mekah Aceh"


sumber : travelingyuk.com

Ketika menyebut Aceh, barangkali kita tak lupa dengan julukan wilayah tersebut sebagai Negeri Serambi Mekah. Dan lagi, kita tentu tak lupa bahwa Aceh pernah dilanda bencana tsunami Aceh pada tahun 2004 silam. Meski demikian, wilayah ini memiliki ragam budaya yang menarik untuk dilestarikan. Berkunjung ke wilayah Aceh tentu orang tak lupa berkunjung ke Mesjid Raya Baiturrahman, mesjid agung yang berdiri kokoh di pusat Kota. Aceh memang dikenal sebagai daerah yang kuat dalam memegang prinsip dan ajaran Islam. Namun siapa sangka, Aceh pun dianggap memiliki budaya batik yang hingga kini masih ada dan berkembang. Meskipun wacana tentang batik Aceh sering menuai pro da kontra Ada pihak yang mengatakan bahwa Aceh memiliki tradisi Batik, namun tidak sedikit yang berujar bahwa di Aceh tidak memiliki tradisi membatik layaknya di Jawa, melainkan hanya tradisi menggunakan batik saja. Alasannya, kata batik sendiri berasal dari bahasa Jawa yakni Amba yang artinya menulis atau titik.  Jejak sejarah lah yang kemudian mengatakan bahwa batik dibawa oleh para penduduk asli jawa yang tinggal dan menetap di Aceh.

Festival Belanja Lazada 11.11 : Momentum Memanjakan Diri Dengan Belanja


  
Menjadi perempuan dengan status ganda memang unik-unik menarik. Sebagai seorang mama muda, istri dan pekerja sekaligus telah menuntut kemampuan untuk memanajemen uang, waktu, pikiran dan tenaga begitu diperlukan. Sibuk, sudah pasti. Membereskan rumah yang berantakan, memandikan anak, mempersiapkan keperluan suami yang hendak dinas, plus arisan dan tak lupa menyiapkan laporan pekerjan. Belum lagi prosesnya disertai dengan perasaan suka, duka, kecewa, marah dan teriakan. Kadang tertawa sendiri bila mengenangnya. Sempat terpikir untuk sesekali bisa memanjakan diri.

Refreshing sesekali menjadi sebuah kebutuhan. Sebagai perempuan, belanja sembari cuci mata bisa menjadi alternatif untuk me-refresh diri juga loh. Nah, menjelang akhir tahun begini, Lazada sebagai salah satu onlineshop terkemuka mengadakan Festival Belanja 11.11 atau yang dikenal dengan Lazada 11.11. Boleh dikata, pucuk dicinta ulam pun tiba. Festival ini bisa jadi sarana untuk merealisasikan wishlist-ku yang sempat tertunda. Kemunculan perayaan festival lazada 11.11 diawali dari perayaan kaum single day di Cina. Dimana para single dapat memanjakan diri pada hari tersebut. Seiring dengan perkembangan zaman, perayaan tersebut bertransformasi menjadi kegiatan memanjakan diri melalui aktivitas belanja. Tapi tentu saja, belanja yang dilakukan mesti tetap disesuaikan dengan budget yang ada loh, ya. Hehe. Lewat festival ini, berbagai produk yang dijual akan mendapatkan diskon hanya dalam kurun waktu 24 jam saja. Dilihat di kalender, tanggal 11 bulan 11 itu bertepatan dengan hari minggu. Bakal jadi weekend yang seru nih. Sebanyak kurang lebih 220 juta produk yang akan diperjualbelikan dalam festival ini. Termasuk mengaet UKM untuk memasarkan produk mereka. 

Stop penyalahgunaan Narkoba Demi Masa Depan Generasi Bangsa


  


STOP PENYALAHGUNAAN NARKOBA
Terus Berprestasi....Tanpa Frustasi
Bersama Kita Bisa

Slogan tersebut kiranya menjadi bagian kampanye penting yang senantiasa terus disosialisasikan secara luas. Bahkan permasalahan narkoba dikategorikan sebagai Transnasional Organized Crime yang melibatkan para pelaku dari lintas negara dan kewarganegaraan. Permasalahan mengenai narkoba memang tidak seperti kasus teroris yang sekali kejadian langsung booming. Meski demikian, kasus penyalahgunaan narkoba berdampaknya begitu masif dalam jangka panjang. Karena dapat merusak mental dan fisik generasi bangsa. 
Di tingkat dunia, kasus penyalahgunaan narkoba pun telah menduduki rangking ke 20 sebagai penyebab angka kematian dan menduduki  rangking ke 10 di negara sedang berkembang seperti Indonesia. Menurut Menteri Luar Negeri, Ibu Retno Marsudi, sebanyak 23 persen peredaran narkoba terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, Badan Narkotika Nasional Kota Bengkulu bekerjasama dengan dengan berbagai pihak untuk turut serta mensosialisasikan mengenai Penyalahgunaan NARKOTIKA kepada semua kalangan.  Salah satunya melalui kegiatan Diseminasi Informasi P4GN (Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba) yang diselenggarakan di grand Xtra Hotel Bengkulu yang bekerjasama dengan Blogger Bengkulu dan Komunitas Pemuda. Pada kegiatan tersebut, Kak Nuche yang merupakan salah seorang fasilitator dari BNN Bengkulu menjelaskan secara lengkap mengenai Narkotika. Yuk simak ulasannya berikut :

Sebenarnya apa itu narkotika itu?  

Peran Keluarga Dalam Membudayakan Sensor Mandiri di Era Teknologi Digital

Talkshow Sensor Budaya Sensor Mandiri
Dokumentasi Pribadi, 2018

The Moral Premise "Entertain, Educate,ELevate".
If You can get all three of those, you've got the Trifecta Going.
(Mel Gibson)"


Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Perkembangan teknologi serta derasnya informasi menjadi satu tanda perubahan yang dapat kita rasakan sekarang ini. Pun demikian halnya dengan media tontonan yang mengalami fase perubahan dari masa ke masa. Pergeseran tidak hanya dirasakan dari media yang digunakan. Melainkan juga dari konten isi tontonan  kepada masyarakat. Kreativitas dan minat pasar menjadi salah satu indikator merebaknya berbagai tontonan yang hadir di tengah-tengah kita saat ini.
Kalau dulu nih, tontonan hanya dilakukan melalui media kotak bernama Televisi. Namun, sekarang, orang bisa menikmati berbagai tontonan dan film melalui gadget pribadi. Internet tidak dipungkiri memegang peran yang begitu penting. Hingga muncul perumpamaan kalau kuota internet seolah sudah menjadi barang kebutuhan primer. Hehehe.
Meski demikian, sisi lain yang turut berkembang ialah dampak dari tontonan yang dihasilkan begitu besar. Disamping dampak positif, keberadaan dampak negatif pun turut menyertai. Munculnya konten porno, berita hoax serta tontonan yang tidak sesuai dengan nilai dan norma menjadi suatu hal yang tak terhindarkan. Oleh karenanya, salah satu hal penting yang dapat dilakukan ialah melalui budaya sensor pribadi di lingkungan keluarga.Bertepatan di hari Rabu, 26 September 2018 yang lalu, Lembaga Sensor Film bekerjasama dengan BloggerBengkulu mengadakan talkshow dengan tema yang menurutku sangat ciamik, yakni Budaya Sensor Mandiri di Lingkungan Keluarga

Kenapa jadi tema yang menurutku ciamik ?

Sebagai mama muda, tema ini begitu relevan bagiku. Terlebih saat ini, aku punya baby yang masuk kategori generasi alpha yang nantinya akan senantiasa bersingunggan dengan digital media. Seiring berjalannya waktu, dunia digital menjadi hal yang tidak lepas dengan masyarakat di masa mendatang. Sehingga kudu banyak cari tahu dan cari ilmu.
Nah, pada talkshow yang diselenggarakan oleh LSF yang berkerjasama dengan Blogger Bengkulu, hadir dua narasumber yang keren ilmu dan pengalamannya. Narasumber pertama ialah seorang ibu muda yang begitu produktif sekaligus founder dari Komunitas Blogger Bengkulu-Mbak Milda-begitu sapaannya. Sedangkan narasumber kedua ialah ibu Noor-selaku perwakilan dari LSF. Pada kesempatan tersebut, mbak Milda banyak berbincang mengenai Fase perubahan tontonan Di Indonesia. Sedangkan Bu Noor-selaku pihak LSF turut berbagi cerita dan pengalaman mengenai proses sensor serta mensosialisasikan secara langsung mengenai budaya sensor mandiri dalam keluarga. Acara yang digelar di Cafe Konakito ini dihadiri oleh lintas komunitas serta mahasiswa dari beberapa univiersitas di Bengkulu. Sebut saja, komunitas blogger, komunitas film serta mahasiswa dari UMB dan juga UNIB. Nah, lantas apa sih sensor mandiri itu? Yuk simak ulasan berikut.

Digital Parenting : Upaya Mendidik Anak Zaman Now




Media Memenuhi Kebutuhan Dasar Manusia (Yalda T.Uls, 2016:127)

Kalau dipikir, ungkapan yang digunakan Yalda dalam bukunya “Media Moms and Digital Dads” memang benar adanya. Kita perlu mengakui bahwa kecanggihan teknologi telah melahirkan peradaban yang hampir keseluruhan aspeknya bernuansa digital. Kecanggihan teknologi telah melahirkan internet yang telah memberikan pengaruh dan perubahan besar dalam kehidupan manusia. Pun begitu halnya dengan lahirnya smartphone yang seolah menjadi asisten dalam keseharian. Percaya ga percaya, hidup di masa kini, semua kemudahan bisa terjadi dengan adanya media online yang serba digital. Mau ini, tinggal klik, mau itu juga tinggal klik. Gak perlu pusing dan repot bukan. Kalau mau kilas balik, beda jauh banget sama zaman dulu.  
Namun, kita perlu menyadari bahwa perubahan besar tersebut jelas berpengaruh terhadap sikap dan mentalitas kita. Apalagi saat ini, digitaliasi sudah merambah ke semua lini kehidupan. Dampak positif dan negatif pastinya dirasakan. Berbagai kemudahan dan fitur positif pun jumlahnya jutaan untuk bisa dimanfaatkan. Tapi tidak sedikit juga konten negatif yang dapat menjerumuskan pikiran dan sikap generasi bangsa. Galau memang.